Buku ini lahir dari satu kegelisahan sederhana: kita hidup di era ketika mesin bisa menulis esai, mendiagnosis penyakit, dan berdebat dengan bahasa yang nyaris tak terbedakan dari manusia — tetapi apakah mesin-mesin itu benar-benar berpikir, atau hanya melakukan simulasi statistik yang begitu canggih hingga penciptanya sendiri mulai ragu di mana batas antara nalar dan komputasi?
Perjalanan dimulai dari titik paling purba: seorang *Homo erectus* di tepi savana yang harus memutuskan lari atau bertahan dalam sepersekian detik, jauh sebelum silogisme pertama dirumuskan. Dari naluri itu, buku ini menelusuri bagaimana manusia perlahan menjinakkan nalarnya sendiri — mendefinisikan logika, bahasa, dan konsep sebagai bahan baku berpikir (Bagian I) — lalu menapaki jejak sejarahnya: Aristoteles dan silogisme di Yunani, Al-Farabi hingga Ibnu Rusyd yang mewariskan logika lewat dunia Islam, Leibniz yang memimpikan kalkulus penalaran, hingga Boole, Frege, Russell, dan Gödel yang menemukan sekaligus membentur batas-batas formal nalar manusia (Bagian II).
Dari fondasi itu, buku membedah anatomi penalaran itu sendiri — deduksi versus induksi, validitas versus probabilitas, logika proposisional dan predikat (Bagian III) — sebelum melompat ke pertanyaan paling mendesak zaman ini: saat logika bertemu mesin. Bagaimana Boole berubah jadi biner, bagaimana sistem pakar berevolusi jadi *machine learning*, dan — pertanyaan paling tajam dalam buku ini — apakah AI benar-benar bernalar secara silogistik, atau sekadar mengenali pola statistik raksasa? Logika fuzzy, dan sekali lagi Gödel, menjelaskan kenapa AI tak pernah bisa “tahu segala” (Bagian IV).
Buku ini kemudian melebarkan pandangan ke falsifikasi Popper sebagai metode ilmiah, logika kuantum yang menolak hukum non-kontradiksi, dan nalar Bayesian yang diam-diam membentuk keputusan kita sehari-hari (Bagian V) — sebelum berbalik menghadapi bayang-bayang gelap nalar: anatomi sesat pikir klasik seperti ad hominem dan strawman, hingga sesat pikir baru era digital — filter bubble, deepfake, disinformasi algoritmik — dan bagaimana bertahan bernalar jernih di zaman post-truth (Bagian VI).
Buku ditutup dengan sintesis: bagaimana merawat nalar di zaman AI, ketika manusia dan mesin harus berevolusi bersama bukan saling menggantikan (Bagian VII). Sebagai penutup opsional, sebuah interlud mengajak pembaca melihat ke arah yang jarang dilirik buku-buku logika Barat: *titen* dan *rasa* — cara mengetahui khas Nusantara yang, alih-alih bertentangan dengan nalar formal, justru menawarkan pengingat kerendahan hati bahwa peta logika tidak pernah sepenuhnya memetakan wilayah realitas (Bagian VIII).
Ditulis untuk mahasiswa filsafat, praktisi teknologi, dan siapa pun yang gelisah oleh pertanyaan yang sama seperti penulisnya: di dunia yang dipenuhi mesin yang tampak berpikir, bagaimana caranya manusia tetap menjadi makhluk yang benar-benar bernalar?
Ebook : https://play.google.com/store/books/details/Sasmita_Wibawa_FILSAFAT_LOGIKA?id=6tj9EQAAQBAJ
#FilsafatLogika #FilsafatAI #KecerdasanBuatan #BukuFilsafat #BerpikirKritis #BukuIndonesia #SasmitaWibawa