Dunia literasi dan penulisan digital hari ini sering kali terjebak pada angka: berapa banyak like, seberapa viral sebuah cuitan, dan seberapa militan sebuah fandom.
Dalam narasi akademik populer, seperti yang diusung oleh banyak pakar media, kekuasaan politik dianggap telah bergeser ke dalam feeds algoritma. Siapa yang paling berisik, dialah yang menang.
Namun, Pilpres 2024 di Indonesia memberikan pelajaran penting bagi para penulis dan analis: Keriuhan digital adalah ilusi mayoritas.
Sering kali, narasi di media sosial dikuasai oleh mereka yang kalah. Mengapa? Karena mereka memiliki militansi untuk memproduksi konten dan berdebat secara terus-menerus.
Algoritma menyukai intensitas ini. Akibatnya, kita melihat seolah-olah seluruh bangsa sedang bergejolak dalam polarisasi afektif.
Padahal, ada kelompok besar yang kita sebut sebagai Silent Majority yang Pasif secara Digital. Mereka online, mereka membaca, dan mereka menonton. Namun, mereka tidak memberikan “makanan” bagi algoritma. Mereka tidak berkomentar, tidak menghujat, dan tidak ikut dalam barisan fandom. Mereka adalah pembaca yang tenang, yang melakukan filtrasi informasi secara mandiri di balik layar.
Bagi kita di Visikata, penting untuk menyadari bahwa kualitas sebuah gagasan tidak boleh diukur dari seberapa gaduh ia diperdebatkan. Penulisan yang jujur dan kontekstual justru harus mampu menyentuh mereka yang diam ini—mereka yang menggunakan rasionalitas untuk menentukan masa depan bangsa, jauh dari manipulasi emosional algoritma.
.